Kebaikan Hidup Akan Lebih Bernilai Dengan Bersedekah

Kebaikan Hidup Akan Lebih Bernilai Dengan Bersedekah

October 7, 2020 Uncategorized 0

 

Siapa yang menginfakkan atau membelanjakan hartanya dalam kebaikan, Allah subhanahu wa ta’ala akan menggantinya di dunia. Kelak di akhirat disediakan pahala yang berlipat ganda. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥۚ وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٍ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

“Katakanlah (wahai Nabi), ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya.’ Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan maka Dia akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba: 39)

Orang yang berinfak akan beroleh ganti di dunia. Di akhirat kelak mendapatkan ganjaran dan pahala, kata al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/331)

Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan,

“Apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan, berupa nafkah yang wajib ataupun mustahab/sunnah, untuk kerabat, tetangga, orang miskin, anak yatim, atau selainnya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menggantinya. Karena itu, janganlah kalian menyangka bahwa berinfak itu mengurangi rezeki.

Allah subhanahu wa ta’ala—Dzat yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya—justru berjanji akan memberi ganti kepada orang yang berinfak. Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya, maka mintalah rezeki dari-Nya dan berupayalah menempuh sebab-sebab yang diperintahkan-Nya kepada kalian.” (Taisir al-Karimir Rahman)

Ayat lain yang bisa kita bawakan sebagai bukti bahwa orang yang berinfak akan murah rezekinya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ وَيَأۡمُرُكُم بِٱلۡفَحۡشَآءِۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغۡفِرَةً مِّنۡهُ وَفَضۡلًاۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian dan karunia-Nya.” (al-Baqarah: 268)

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata tentang ayat di atas,

“Dua hal dari Allah dan dua hal dari setan. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran. Dia berkata, ‘Jangan engkau infakkan hartamu dan tahanlah karena engkau membutuhkannya.’ Dia juga menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir).

Sementara itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian dari maksiat-maksiat yang dilakukan, dan berjanji memberikan karunia-Nya berupa keutamaan dalam hal rezeki.” (Tafsir ath-Thabari, 3/88, atsar no. 6167)

Dalam Tafsir al-Khazin[1] (1/204) dinyatakan bahwa ampunan merupakan isyarat yang menunjukkan pada kemanfaatan akhirat. Adapun karunia/keutamaan menunjukkan kemanfaatan dunia dan rezeki berikut ganti yang diperoleh.

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata tentang ayat di atas,

“Dua hal dari Allah dan dua hal dari setan. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran. Dia berkata, ‘Jangan engkau infakkan hartamu dan tahanlah karena engkau membutuhkannya.’ Dia juga menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir).

Sementara itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian dari maksiat-maksiat yang dilakukan, dan berjanji memberikan karunia-Nya berupa keutamaan dalam hal rezeki.” (Tafsir ath-Thabari, 3/88, atsar no. 6167)

Dalam Tafsir al-Khazin[1] (1/204) dinyatakan bahwa ampunan merupakan isyarat yang menunjukkan pada kemanfaatan akhirat. Adapun karunia/keutamaan menunjukkan kemanfaatan dunia dan rezeki berikut ganti yang diperoleh.

Al-Qadhi Ibnu Athiyyah[2] rahimahullah berkata dalam tafsirnya, “Maghfirah atau ampunan adalah ditutup/dihapusnya kesalahan para hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Adapun al-fadhl atau karunia/keutamaan adalah rezeki di dunia, mendapatkan keluasan di dalamnya, dan mendapatkan nikmat di akhirat.” (al-Muharrarul Wajiz fi Tafsir al-Kitabil ‘Aziz, 1/364)

Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa faedah dari ayat di atas. Di antaranya:

  1. Setan dapat memberikan tipu daya guna menyesatkan manusia.

Hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya,

ٱلشَّيۡطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلۡفَقۡرَ

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran.” (al-Baqarah: 268)

  1. Setan dapat memengaruhi manusia untuk berani berbuat sesuatu atau menghalangi untuk berbuat sesuatu.

Misalnya, setan menyuruhnya berzina dan menghias-hiasi perbuatan zina tersebut hingga akhirnya ia berani berzina. Di arah lain, setan menyuruhnya kikir dan menakut-nakutinya dengan kemiskinan apabila ia menginfakkan hartanya hingga ia pun enggan berinfak.

  1. Tidak ada yang membuka pintu-pintu kesialan kecuali para setan.

Setan ini membuka untukmu pintu kesialan. Dia berkata, “Apabila hari ini engkau berinfak, besok engkau akan jadi orang miskin. Karena itu, jangan berinfak.”

  1. Kikir termasuk perbuatan fahisyah (keji).

  2. Siapa yang menyuruh orang lain untuk menahan harta agar tidak diinfakkan di jalan kebaikan, berarti dia serupa dengan setan.

  3. Kabar gembira bagi orang yang berinfak bahwa dia akan beroleh ampunan dan tambahan harta.

Apabila ada yang bertanya, “Bagaimana bentuk tambahan yang diperoleh orang yang berinfak, sementara kenyataannya saat dikeluarkan infak, harta akan berkurang? Seperti seseorang yang sebelumnya memiliki sepuluh dirham, lalu dia infakkan satu dirham. Tentu hartanya tinggal sembilan dirham. Dari sisi mana tambahannya?”

Jawabannya, tambahan pahala di akhirat kelak tentunya jelas. Sebab, satu kebaikan akan dibalas dengan 10—700 kali lipat, bahkan berlipat ganda.

Adapun tambahan di dunia, hal ini dilihat dari beberapa sisi:

a. Terkadang Allah subhanahu wa ta’ala membukakan satu pintu rezeki bagi seseorang yang sebelumnya tidak terpikirkan di benaknya sehingga bertambahlah hartanya.

b. Allah subhanahu wa ta’ala menjaga harta seseorang agar tidak rusak/hilang dan semisalnya.

Seandainya si pemilik tidak bersedekah, niscaya harta itu akan binasa. Dengan berinfak, dia akan melindungi hartanya dari kebinasaan.

c. Diperolehnya berkah dalam berinfak.

Dengan berinfak, walau sedikit, akan didapatkan buah yang sangat besar. Sementara itu, apabila berkah pada harta dicabut, niscaya harta akan dihambur-hamburkan dalam perkara yang tidak bermanfaat atau justru memudaratkan si pemiliknya. (Tafsir al-Qur’anil Karim, 3/347—349)

Abu Hurairah radhiallahu anhu menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku akan memberi infak kepadamu.” (HR. al-Bukhari no. 5352 dan Muslim no. 2305)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada satu hari ketika para hamba berpagi hari melainkan ada dua malaikat yang turunSalah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang kikir.” (HR. al-Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 2333)

Sementara itu, kita tahu bahwa doa malaikat mustajab di sisi Allah subhanahu wa ta’alaSebab, mereka tidaklah mendoakan seseorang kecuali dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ

“Dan mereka (para malaikat itu) tidaklah memberikan syafaat (untuk seorang pun) kecuali orang yang Allah ridhai dan mereka takut kepada-Nya.” (al-Anbiya: 28)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *